Setelah melalui berbagai tahap penyeleksian mulai dari tahap pendaftaran, screening inovasi teknologi, validasi, penjurian tahap satu dan penjurian final. Maka terpilihlah Juara Mandiri Young Technopreneur 2015 di kategori Digital, Mini Boiler untuk UKM yang dibuat oleh Tim Bumibraja Nusantara.
atau mesin penghasil uap sangat dibutuhkan di banyak industri di Indonesia, termasuk industri kecil seperti industri tahu, kerupuk, jamur dan lain-lain. Akan tetapi masalahya adalah boiler yang beredar dipasaran umumnya belum bisa dimanfaatkan oleh industri kecil (UKM) karena dimensi, kapasitas, dan daya listrik yang besar, juga masalah bahan bakar dan harganya yang mahal hingga ratusan juta rupiah. Sementara industri kecil hanya memiliki tempat produksi terbatas, daya listrik kecil, serta dana yang terbatas, sehingga tak memungkinkan mereka membeli mesin boiler yang banyak beredar di pasaran.
Melihat masalah tersebut, sebuah perusahaan bernama Bumibraja Nusantara mengangapnya sebagai potensi yang sangat besar untuk menciptakan boiler yang dapat digunakan oleh UKM-UKM. Tak mudah memang menghasilkan boiler yang dapat digunakan secara tepat guna, perusahaan ini membutuhkan waktu selama 7 tahun yang akhirnya berhasil menjawab tantangan-tantangan di atas, dengan menciptakan sebuah boiler yang diberi nama Bumibraja Mini Boiler.
Anda mungkin bertanya, lalu apa perbedaan boiler Bumibraja dengan boiler yang banyak beredar di pasar. Menurut Tim Bumibraja Nusantara, boiler ini memang dikhususkan untuk UKM, dengan desain yang kecil, simple, portable, berdaya listrik kecil, dan reaktif, sehingga cocok untuk UKM yg tempat produksinya terbatas dan memiliki keterbatasan modal juga terbatas, karena harga yang ditawarkan relatif lebih murah.
Poin plus yang kedua adalah hemat energi. Karena menggunakan sistem pembakaran terbalik yang memungkinkan boiler menggunakan bahan bakar padat (cangkang sawit, batok kelapa, kayu bakar, batu bara) dengan kata lain, tidak harus mengandalkan BBM dan gas yang mahal dan langka. Penghematan bahan bakar bisa mencapai 80%.
Poin kelebihan yang ketiga adalah efektif dan efisien. Jika Boiler yang ada dipasaran membutuhkan waktu 2-3 jam untuk startup awal, boiler ini hanya membutuhkan waktu 20 menit sampai terbentuk uap dan bisa dipakai. Efisiensi waktu produksi bisa mncapai 70% dibandingkan dengan cara konvensional.
Potensi Pasar
Bumibraja Nusantara tak ingin main-main membesarkan pangsa pasarnya, jika dihitung potensi pasarnya maka ada 51.3 juta unit usaha di Indonesia, dan apabila 3%-nya saja merupakan usaha-usaha yang membutuhkan air panas/uap dalam proses produksinya, seperti industri tahu, kerupuk, jamur, batik, laundry, catering dan lainnya, maka setidaknya dibutuhkan boiler sebanyak satu-dua juta boiler secara nasional.
Itu jika dihitung secara nasional, namun potensi lokal juga tak sedikit. Industri tahu misalnya di kawasan industri tahu Cibuntu saja membutuhkan sekitar 3000 unit boiler dalam proses produksi, sedangkan di seluruh Bandung, ada sekitar 10.000 industri tahu (berdasarkan data kementrian KUKM 2011). Ya, bukan pasar yang kecil kan?
Mimpi perusahaan yang dikepalai oleh Ii Ratna Yanti Kosasih dan Nafi Rasyid sebenarnya tak hanya berhenti pada teknologi mini boiler saja, selain ingin terus mengembangkannya, mereka juga bermimpi ke depan mereka bisa membangun PLTU mini dari Boiler mini ini sehingga masyarakat yang belum memiliki listrik bisa disuplai menggunakan PLTU mini mereka.
“Dengan boiler mini yang berbahan bakar padat yang mudah didapat ini, maka tidak akan sulit untuk megoperasikan PLTU mini di daerah pedalaman atau desa terpencil sekalipun,” terang keduanya.